Sabtu, 20 Oktober 2012

tugas Pengantar Pendidikan


PERMASALAHAN PENDIDIKAN

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Pengantar Pendidikan
Dosen Pengampu : Dra.Suharni, M.Pd.

 










Disusun oleh :

 Arum Pramistyasari
10144600063






FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI
YOGYAKARTA
2010

Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan suber daya manusia untuk pembangunan. Sebagai konsenkuensi logis, pendidikan selalu dihadapkan pada masalah-masalah baru. Masalah yang dihadapi dunia pendidikan itu demikian luas, pertama karena sifat sasarannya yaitu manusia sebagai makhluk misteri, kedua karena usaha pendidikan harus mengantiipasi ke hari depan yang tidak segenap seginya terjangkau oleh kemampuan daya ramal manusia. Oleh karena itu, perku ada rumusan sebagai masalah-masalah pokok yang dapat dijadikan pegangan oleh pendidikan dalam mengemban tugasnya.

A.Permasalahan Pokok Pendidikan dan Penagnggulangannya
            Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai system dengan system social budaya sebagai suprasistem tersebut dimana system pendidikan menjadi bagiannya.Artinya, suatu permasalahan intern dalam system pendidikan selalu ada kaitan dengan masalah-masalah di luar system pendidikan itu sendiri.

B. Jenis Permasalahan Pokok Pendidikan
            Empat masalah pokok pendidikan yang telah menjadi kesepakatan nasional yang perlu diprioritaskan penanggulangannya,yaitu :

  1. Masalah Pemerataan Pendidikan
      Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana system pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnyakepada seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehngga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.
      Pada masa awalnya, di tanah air kita pemerataan pendidikan itu telah dinyatakan di dalan undang-undang No.4 Tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah.Pada Bab XI, Pasal 17 berbunyi :
Tiap-tiap warga Negara Republik Indonesia mempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarat-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu dipenuhi.
Pada Bab VI, Pasal 10 ayat 1, menyatakan : “ Semua anak yang sudah berumur 6 than berhak dan yang sudah berumur 8 tahun diwajibkan belajar di sekolah sedikitnya 6 tahun lamanya.’’ Ayat 2 menyatakan :” Belajar di sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari menteri agama dianggap telah memenuhi kewajiban belajar.’’
      Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesepatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekaldasar berupa kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yangtersedia baik mereka itu nantinya berperan seagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat serap pembangunan.
      Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan, mak setelah pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan terpenuhi, mulai diperhatikan juga upaya pemerataan mutu pendidikan.

2.Masalah Mutu Pendidikan
      Mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluarannya. Jika tujuan pendidikan nasional dijadikan kriteria, maka pertanyaanya adalah : Apakah keluaran dari suatu sistem pendidikan menjadikan pribadi yang bertaqwa, mandiri dan berkarya, anggota masyarakat yang sosial dan bertanggung jawab, warganegara yang cinta kepada tanah air dan memiliki rasa kesetiakawaan sosial.
      Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang berutu.Jika terjadi belajar yang tidak optimal menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu.Sebagai contoh, misalnya komponen sarana pembelajaran yang lengkap tetapi tidak didukung oleh guru-guru yang terampil maka sumbangan sarana tersebut pada pencapaian tujuan yang tidak akan optimal.

  1. Masalah Efisiensi Pendidikan
      Beberapa maslah efisiensi pendidikan yang penting ialah :
a.   Bagaimana tenaga pendidikan difungsikan
b.  Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan.
c.   Bagaimana pendidikan diselenggarakan.
d.  Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.

            Masalah efisiensi dalam penggunaan prasarana dan sarana bisa terjadi antara lain sebagai akibat kurang matangnya perencanaan dan sering juga karena perubahan kurikulum. Gejala lain diadakannya dan distribusikannya sarana pembelajaran tanpa dibarengi dengan pembekalan kemampuan, sikap dan keterampilan calon pemakai, ataupun tanpa dilandasi oleh konsep yang jelas.Semuanya ini menggambarkan bahwa dibalik pembaruan terjadi pemborosan meskipun sukar dielakan. Sebab bagaimanapun juga pembaruan kurikulum merupakan tindakan antisipasi terhadap pemberian bekal bagi calon luaran agar sesuai dengan tuntunan zaman.

  1. Masalah Relevansi Pendidikan
      Bahwa tugas pendidikan ialah menyiapkan sumber daya manusia untuk membangun.Kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang kerjaan yang ada antara lain :
a.  Status lembaga pendidikan sendi masih bermacam-macam kualitasnya.
b.Sistem pendidikan tidak pernah mengahasilkan luaran siap pakai.Yang ada ialah siap kembang.
c. Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratannya yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia.

Gambaran relevansi pendidikan itu dengan kebutuhan lapangan
 










            Jika produksi (L) tenaga dikaitkan dengan kebutuhan ?9K) dan pengangkatan (P), maka ga,baran umumnya adalah sebagai berikut : L > K > P. Artinya jumlah luaran lebih besar daripada pengangkatan, dengan akibat bahwa setiap tahunnya selalu terjadi penumpukan tenaga kerja yang menungguu pekerjaan. Dapat disimpulkan bahwa masalah relevansi merupakan masalah yang berat untuk dipecahkan, utam maslah relevansi kualitas.
            Dari keempat macam masalah pendidikan tersebut masing-masing dikatakan teratasi jika pendidikan ;
a.   Dapat menyediakan kesempatan pemerataan belajar, artinya: Semua warga negara yang butuh pendidikan dapat ditampung dalam suatu pendidikan.
b.  Dapat mencapai hasil yang bermutu, artinya: Perencanaan, pemrosesan pendidikan dapat mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
c.   Dapat terlaksana secara efisien, artinya: Pemrotesan pendidikan sesuai dengan rancangan dan tujuan yang ditulis dalam rancangan.
d.  Produknya yang bermutu tersebut relevan, artinya: Hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.


            Kesimpulannya dapat diilustrasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut:
             Warga Negara
( masukan mentah pendidikan )
 
Rancangan Pendidikan
 
Proses Pendidikan
 
Tujuan Pendidikan
 
Hasil Pendidikan
 
Kebutuhan Masyarakat
 
                        
                                                                                                  Relevasi




                        Mutu
                                                  
                                                                                           Efisiensi

                       
            Pemerataan
        



1.      Pemerataan
2.      Mutu
3.      Efisiensi
4.      Relevansi
            Saling berkaitan antara masalah-masalah pendidikan.Pada dasarnya pembangunan di bidang pendidikan tentu menginginkan tercapainya pemerataan pendidikan dan pendidikan yang bermutu sekaligus.Ada dua faktoryang dapat dikemukakan sebagai penyebabmengapa pendidikan yang bermutu belum dapat diusahakan pasa saat demikian.
            Pertama, gerakanperluasan pendidikan untuk melayani pemeraan kesempatan pendidikan bagi rakyat banyak memerlukan penghimpuan dan pengerahan dana dan daya.
            Kedua, kondisi satuan-satuan pendidikan pada saat demikian mempersulit upaya peningkatan mutu karena jumlah murid dalam kelas terlau banyak, pengerahan tenaga pendidik yang kurang kompeten, kurikulum yang belum mantap, sarana yang tidak memadai, dan seterusnya.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Masalah Pendidikan
1. Perkembangan Iptek dan Seni
a. Perkembangan Iptek
            Terdapat hubungan yang erat anatar pendidikan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Sebagai contoh betapa eratnya hubungan antara pendidikan dengan iptek itu, misalnya sering suatu teknologi baru yang digunakan dalam suatu proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial bau lantaranperubahan persyaratan kerja.
            Hampirsetiap inovasi mengundang masalah.Pertama, karena belum ada jaminan bahwa inovasi itu pasti membawa hasil. Kita sudah banyak mendapatkan pengalaman dalam hal ini. Kedua, pada dasarnya orang merasa ragu dan gusar jika mengadapi hal baru. Umumnya lebih suka mengejakan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan rutin dan ragumenerima hal baru yang lebih dikenal.
b. Perkembangan Seni
            Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual maupun kelompok yang mengahasilkan suatu yang indah.

2.Laju Pertumbuhan Penduduk      
            Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal, yaitu:
a. Pertambahan penduduk, dan
b.  Penyebaran penduduk.
  1. Menurut Emil Salim (Conny R. Semiawan, 1991;18)
Tabel
Perkiraan Jumlah Penduduk
Menurut Bank Dunia Tahun 1986
Pertengahan Abab XXI
Tahun
1986
1990
2000
2050
Penduduk (juta)
166
178
207
355
Dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka penyediaan prasarana dan sarana pendidikan beserta komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus ditambah. Dan ini berarti beban pembangunanasional menjadi bertambah.

  1. Penyebaran Penduduk
      Penyebaran penduduk di seluruh plosok tanah air tidak merata. Sebaran penduduk seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam penyediaan sarana pendidikan. Pola yang labil ini juga merusak pola pasaran kerja yang seharusnya menjadi acuan dalam pengadaan tenaga kerja.
3. Aspirasi Masyarakat
            Orang mulai melihat bahwa untuk dapat hidup yang lebih layak dan sehat harus ada pekerjan tetap yang menopang, dan pendidikan memberi jaminan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan menetap itu.
            Namun demikian tidaklah berarti bahwa aspirasi terhadap pendidikan harus direndam, justru sebaliknya harus tetap dibangkitkan dan ditingkatka, utamanya pada masyarakat yang belum maju dan masyarakat di daerah terpencil, sebab aspirasi menjadi motor penggerak roda kemajuan.
4.Keterbatasan Budaya dan Sarana Kehidupan
            Keterbelakangan budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh sekelompok masyarakat (yang mengganggap dirinya sudah maju ) kepada masyarakat lain pendukung suatu budaya.Keterbelakangan budaya terjadi karena:
·    Letak geografis tempat tingal suatu masyarakat (misal terpencil).
·    Penolakan masyarakatterhadap datangnya unsur budaya baru karena tidak dipahami atau karena dikhawatirkan akan merusak sendi masyarakat.
·    Ketidakmampuan masyarakat secara ekonomis menyangkut unsur kebudayaan tersebut.
Yang terjadi masalah ialah bahwa kelompok asyarakat yang terbelakang kebudayaannya tidak ikut berperan serta dalam pembangunan, sebab mereka kurang memiliki doronganuntuk maju.
Ada dua sub pokok bahasan yang diuraikan dalam bagian ini yakni permasalahan aktual pendidikan dan penanggulangannya.

E.Permasalahan Aktual Pendidikan dan Penanggulangannya
1. Permasalahan Aktual Pendidikan di Indoneia
            Beberapa masalah aktual pendidikan yang akan dikemukakan meliputi masalah-masalah keutuhan pencapaian sasaran, kurikulm, perana guru, pendidikan dasar 9 tahun, dan pandayagunaan teknologi pendidikan.
            Perlu dipahami bahwa tidak semua maslah aktual tersebut merupakan masalah baru. Bahkan ada yang sudah lama. Berikut ini masalah aktual tersebut:
a.  Masalah Keutuhan Pencapain Sasaran
           Di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pnedidikan Nasional Bab II Pasal 4 telah dinyatakan bahwa tujuan Pendidikan Nasional ialah mengembagkan manusia Indonesia seutuhnya. Kemudian dipertegas lagi secara rinci di dalam GBHB butir 2a dan b, tentang arah dab tujuan pendidikan bahwa yang dimaksud dengan manusia utuh itu adalah manusia yang sehat jasmani dan rohani, manusia yang memiliki hubungan secara vertikal ( dengan Tuhan Ynag Maha Esa ), horisontal (dengan lingkungan dan masyarakat), dan konsentris( dengan diri sendiri): yang berimbang antar duniawi dan ukhrawi. Jadi konsepnya sudah cukup baik.  Tetapi di dalam pelaksanaannyapendidikan afektif bellum ditangani semestinya. Kecenderungan mengarah kepada pengutamaan pengembangan aspek kognitif. Pendidikan agama dan Pendidikan Moral Pancasila misalnya yang semestinya mengutamakan penenaman nilai-nilai bergeser kepada pengetahuan agama dan pancasila.Keberhasilan pendidikan di nilai dari kemampuan kohnitif atau penguasaan pengetahuan.Padahan untuk pengembangan perasaan dan hati agar memahami nilai-nilai tidak cukup hanya berkenalan dengan nilai-nilai melainkan harus mengalaminya.



           Masalahnya, apakalh sistem pendidikan kita memberi peluang demi terjadinyapengalaman-pengalaman tersebut. Kelihatannya banyak hambatan yang harus dihadapi, antara lain:
1)      Beban kurikulum sudah terlalu sarat.
2)      Pendidiakn afektifsulit diprogamkan ecra eksplesit, karena dianggap menjadi bagian dari kurikulum tersembunyi(hiden curriculum) yang keterlaksanakan sangat tergantung kepada kemahiran dan pengalaman guru. Jika terjadi perubahan tingkah laku afektif maka semata-mata adalah hasil atau dampak dari proses pengiring dan bukan dampak langsung dari proses pembelajaran yang didesain.
3)      Pencapaian hasil pendidikan afektif mamakan waktu, sehingga memerlukan ketekunan dan kesabaran pendidik.
4)      Menilai  hasil pendidikan afektif tidak mudah. Bahkan kalau mau berhasil, juga membutuhkan biaya. Misal, jika PR ingin berdaya mendidik (ketekunan, kepercayaan diri, kejujuran, kedisiplinan) maka harus diperiksa dengan saksama oleh guru dan hasilnya dikebalikan kepada siswa untuk dibicarakan. Untuk itu diperlukan  adanya insentif bagi guru.
b.    Masalah Kurukulum
Masalah kurikulum meliputi masalah konsep dan masalah pelaksanaannya. Saat ini sistem pendidikan dilaksanakan dengan menggunakan kurikulum 1984 yang didesai sebagai penyempurnaan(SK No.0209/76. Jika kurikulum Jika kurikulum 1975/76 beroreintasi kepada produk pendidikan dan kurang membenahi proses pembelajaran maka kurikulum 1984 lebih peduli terhadap kualitasproses pembelajaran. Kurikulum 1984 memberi perhatian yang besar pada CBSA dan keterampilan proses, juga pelaksanaan ko dan ekstrakulikuler dengan memperhitungkan hasilnya sebagai bahan untuk nilai akhir.
Konsep ini memang baguskarena teoritis. Tetapi pelaksanaanya mengundang banyak masalah. Titik rawan yang bisa timbul antara lain bagaimana mempersiapkan para pelaksana dan membina pendidikan di lapangan khususbya guru agar dapat ber-CBSA dan melaksanakan keterampilan proses dalampembelajaran. Ini bukan persoalan yang mudah, karena merupakan soal perubahan sikap dan keterampilan dalam pembelajaran.Pembenahannya memerlukan penataran, penyulluhan, bimbingan secara kontinu dari para pembina pendidikan srta tenaga ahli. Kesemuanya itu belum beban biaya.
Konsep kurikulum 1984 juga memiliki kelebihan karena adanya keluwesan-keluwesan antara lain :
·         Disediakannya anega program belajar, untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan untuk memasuki lapangan kerja.
·         Adanya program inti yang sifatnya nasional untuk persatuan nasional, memuat pengetahuan minimal dan program khusus A dan B dapat dipilih sesuai sengan kemampuan dan minat siswa.
·         Adanya program pusat dan program daerah ( muatan local ).
Sekalipun demikian tetap disadari bahwa pelaksanaan kurikulum ini tidak mudah dan cukup rumit. Disinilah letak kesalahannya.
Kerumitan-kerumitan itu antara lain, meliputi :
·         Pemilihan materi muatan lokal yang tepat.
·         Penyusunan program (disajikan secara onolitik atau secara integratif), juga menentukan pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan, dari dalam dan dari luar lingkungan sekolah.
·         Koordinasi pelaksanaan.
·         Penyedian sarana, fasilitas, dan biaya.
Semuanya itu menurut keterampilan dari para pelaksana dan membina pendidikan di lapangan yang harus bergerak sebai tim dengan ditunjang kemauan yang besar sebagai tekat bersama..
c.  Masalah Peranan Guru
Guru merupakan satu-satunya sumber belajar, ia menjadi pusat termpat bertanya. Tugas guru memberikan ilmu pengetahuan kepadamurid. Cara demikian dipandang sudah memadai karena ilmu pengetahuan guru belum berkembang, cakupannya masih terbatas. Sejak abad ke-19, bagi seorang guru tidak mungkin lagi menguasai seluruh khasanah ilmu pengetahuan walau dalam bidangnya sendiri yang ia tekuni. Dia tidak mungkin menjadikan dirinya gudang ilmu dan oleh karena itu juga tidak satu-satunya sumber belajar bagi muridnya.
Guru mendudukan dirinya hanya sebagai bagian dari sumber belajar. Beraneka ragam sumber belajar yang hanya justru dapat ditemukan di luar diri guru seperti perpustakaan, teman bacaan, museum, toko buku, berbagai media massa, lembaga-lembaga sosial, orang-orang pintar, kebun binatang, alam dan lingkungan sekitar dan lain-lain.
























PERMASALAHAN PENDIDIKAN

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Prngantar Pendidikan
Dosen Pengampu : Dra.Suharni, M.Pd.

 










Disusun oleh :








FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI
YOGYAKARTA
2010


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar